is this growing up supposed to feel like?


 "Jak, aku udah ngga ngerasa apa-apa lagi" tutur Unge kepada Jaka yang duduk disampingnya 

"Udah gak ngerasain apa Nge?" 

"Ngerasain sakit setelah putus dari Hilal" 

Deburan ombak di pantai hari itu sedikit tinggi, hari itu tidak terlalu panas untuk berada di pantai, Jaka dan Unge selalu berjanji untuk datang ke pantai setiap sore akhir pekan dan kali ini sepertinya alam semesta seperti membantu Unge untuk bersantai setelah patah hati yang ia rasakan dua hari yang lalu. 

"Kamu yakin? Udah sembuh dari patah hati itu?" tanya Jaka dengan serius menatap Unge yang berada di sampingnya 

"Aku rasa begitu Jak. Aku udah gak ngerasain sakit, walau awalnya aku nangis kencang sampai aku kira aku mau mati. Rasanya begitu sakit Jak setelah menutup telefon dari Hilal. Kau tau kan aku dan Hilal telah lama bersama, bahkan aku sudah menganggap ia sebagai teman ku sendiri dibandingkan pacar. Sampai kadang aku lupa bahwa kamu juga temanku Jak, tapi apa boleh buat komitmen yang ia punya untuk ku tidak ada, rasanya pun ia butuh mencari jalannya sendiri aku tak mau menjadi wanita yang hanya menjadi penghalang buat seorang pria mencari jati dirinya, tidak bukan untukku" 

"Tapi kau masih sering menangis?"

"Jujur saja, aku masih menangis. Aku tidak mau bohong kepadamu Jak, tangisan ini jatuh karena aku kehilangan sahabat Jak, kehilangan sahabat yang aku tau tak akan pernah kembali. Dan seharusnya dari awal memang aku dan Hilal harusnya menjadi sahabat saja tidak usah menjalin hubungan lebih dari sahabat"

"Kau gak marah sama dia Unge? Setau aku dia sudah sering seperti ini kepadamu, pergi lalu kembali, lalu pergi, lalu kembali. Apa kau tidak benci kepadanya?"

"Aku gak benci atau marah kepadanya Jak, walau memang aku kesal akan sikapnya yang tidak menentu, namun kali ini aku berkata kepadanya... janganlah kau kembali lagi... jika memang kau ingin kembali tolong... untuk setidaknya siap akan hati dan pilihan agar nanti kau teguh akan pilihan mu untuk bersamaku kembali"

"Kau berkata seperti itu? Wah.... apakah berat?"

"Berat.. hah.. jangan lagi.. amat sangat berat.. seperti yang aku bilang tadi, pada akhirnya aku kehilangan sahabatku Jak, dan aku gak tau apakah aku bisa lagi kembali bersahabat dengannya atau tidak.."

Jaka tak lagi bertanya ia hanya menggegam tangan Unge dan mengamati matahari yang tenggelam di tengah-tengah laut.. Unge meneteskan air matanya kembali, sebagai tanda bahwa matahari itu adalah penutup sayangnya kepada Hilal. Malam datang, dan seperti biasanya Unge harus pulang cepat sehingga Jaka mengajak Unge untuk pulang, namun sebelum pulang Jaka menghentikan langkahnya dan berkata,

"Unge.. mungkin kau telah dewasa.. walaupun kau merasakan sakit yang lumayan dalam, tapi setidaknya kau mencoba bakit kembali. Unge, aku tau Hilal sahabat yang selalu kau sayangi namun mungkin kau ada benarnya untuk melepaskannya, karena sebenarnya sahabat yang tulus adalah sahabat yang akan selalu mengajak mu untuk terus tumbuh bukan hanya diam di tempat.. aku pun begitu aku akan selalu disampingmu kapanpun kau butuh Unge. Nah, aku harap kau bisa kembali tegar ya, jika memang kau dan Hilal berjodoh aku yakin kau akan kembali bersama dengannya. Dan ingat Unge.. waktu akan menyembuhkan rasa sakitmu percaya atau tidak, it's okay untuk menangis itu bukan berarti kau lemah, itu tandanya kau manusia, manusia yang mempunyai perasaaan"

Unge tersenyum mengangguk dan berterimakasih atas nasehat yang Jaka berikan, ia sebenarnya takut sendiri namun ia harus membalikkan badan dan berani untuk sendiri, walau perlahan... tapi pasti... dan waktu akan memeluknya untuk memberikan senyuman kembali di lain hari walau bukan sekarang..


song recommend: Let Me Go (Crush ft Taeyeon) 

Comments

Popular posts from this blog

tanda tanya

To The Whole New Beginning

dear tomorrow