Teromabang-ambing oleh ombak, membawaku pergi jauh
dari angan-angan. Membuka lembaran baru atas hidup yang telah lama pudar. Iya,
aku kembali, kembali atas hidup yang pernah sirna. yang kemudian
manusia-manusia itu memintaku untuk tinggal.
Kalian kira lucu? Hampir semua ini aku jalani
dengan hati yang diremas bagaikan kertas yang diremuk setelah tak berguna lagi.
Kalian gak akan mengerti dan kalian gak akan pernah memahami rasa ini. Rasa
antara hidup dan mati. Mungkin kalian pikir dia sakit, atau gila tapi bukan,
perasaan ini nyata adanya. Perasaan ini dialami dari mereka yang menerima
banyak kekecewaan dunia fana. Tak percaya keajaiban itu ada, dan sesungguhnya
merindu dunia barkah tanpa campur tangan manusia.
Sabtu pagi hari, aku
mendengar lagi suara teriak itu. Suara teriakan yang membuatku gila dan rasanya
ingin pergi dari keributan menuju ketenangan. Rumah yang sudah tua ini
membuatku benci untuk memanggilnya dengan rumah. Untuk apa dipanggil rumah yang
tujuannya untuk berpulang tapi yang kurasa bukan berpulang tapi hanya untuk
singgah? Hah,persetanan dengan semua ini lebih baik aku pergi sebelum aku
menggila.
Hai, namaku Nanda
manusia-manusia fana memanggilku dengan Nda, mereka bilang lebih cepat dan
praktis, ya masa bodoh. sejak kecil, hidupku bahagia, senang, sehat, dan
mempunyai segalanya. Kedua orang tua ku rukun, mereka mencintaiku
selayaknya anak mereka dan sangat memperhatikanku, ya seperti umumnya. Hidupku
dipenuhi dengan kecukupan, aku bersyukur, untuk apa aku tidak bersyukur. Agama
yang aku pegang mengajarkan ku bersabar, bersyukur, dan rendah hati. Aku jalani
itu semua dengan baik, ya walau kadang aku membelokkan sedikit, rebel.
aku mempunyai teman, dibilang banyak tidak, tapi dibilang sedikit juga tidak. Teman-teman
yang aku miliki baik, belum ada yang jahat kepadaku, ya, mereka senang membantu
jika aku ada kesusahan, aku beruntung.
Lihat bukan? hidupku sangat beruntung jika
kalian lihat dari luar. Banyak dari mereka yang kadang iri melihat hidupku, aku
bahkan tak tahu dimana ke irian itu datang. Tapi setidaknya mereka tidak tahu
tempat gelap yang berada di hatiku, dimana hanya aku dan Tuhan yang tau, iya
pikiran serta hati yang gelap.
20 tahun aku menjalani
hidup ini penuh dengan lika-liku kehidupan. pernah suatu saat aku bercerita
tentang kehidupanku yang penuh dengan kesedihan kepada temanku yang setidaknya
sudah aku percaya, dan kalian tau apa? Ia berkata seperti ini “Ya ampun, kaya
gitu doang? Lawan dong, kenapa sih sabar banget”. Kepribadianku dari mata luar
memang terlihat penyabar, dan tidak banyak omong, macam orang mengiraku baik,
lemah lembut, penuh perhatian , serta polos. Aku cuman bisa tertawa saja dalam
hati tak jarang aku perkata “mereka gak tau aja” iya itu lah aku. Aneh? jangan
tanya. Aku sendiri pun tidak mengerti. Wajah yang kupasang sehari-hari untuk
manusia fana lihat memang berbeda dengan yang aku pasang sendiri atau ketika
aku bersama seseorang yang sudah aku kenal dekat dan mengerti sifatku.
Kepribadianku pun bisa dibilang aneh. Ntah karena aku pernah mengalami hal yang
tidak menyenangkan atau bagaimana aku menjadi orang yang sangat ketergantungan.
Aku merasa nyaman di zona nyamanku, aku merasa tidak ada orang yang dapat
memahamiku selain dia yang sudah mengetahui luar dalam ku. Itu tanda orang aneh
bukan? Ntahlah. Tapi begitulah keadaanku sekarang.
Hari ini, hari dimana
aku dan sahabat priaku bernama Galih jalan, Galih adalah sahabat pria ku yang
sudah tau luar serta dalamku, tak jarang aku bahkan menangis di depannya.
Galih, bukan hanya sebagai tempat curhatku sesaat tapi aku seperti sudah mulai
ketergantungan dengannya. Setiap ia sedang jalan dengan temannya yang lain, aku
merasa seperti ditinggalkan, aku merasa ia lupa denganku? Psikopat kah itu?
Ntahlah. Tapi intinya aku merasa hal seperti itu ke Galih, dan sudah berulang
Galih bersabar dan mencoba mengarahkanku agar aku tak bergantung kepadanya tapi
tetap saja, susah. Sudah berapa kali aku mencoba tapi ketergantungan itu datang
lagi datang lagi.
“Lih, aku capek dirumah” ujarku sambil memasukkan
ice cream matcha ke dalam mulut
“Capek kenapa lagi sih?” tanyanya
“Pengen mati aja deh kadang”
“Apaan sih Nda, gak suka aku kalau kamu udah
kaya gini tuh” tegur Galih dengan wajahnya yang serius menatap mataku
“Tapi capek Lih” ujarku
“Nda, bisa gak sih gak ngeluh, aku tau keadaan
rumah kamu bukan kaya rumah tapi jangan gitu juga dong, semua orang going
through stuff juga gak cuman kamu doang”
kata-kata yang Galih ucapkan semuanya benar, aku
memang sering mengeluh tanpa berfikir, kebiasaanku yang membuat orang muak
membuatku hampir membenci diriku sendiri. Tapi, Galih gak akan mengerti, semua
orang gak akan mengerti, aku merasa benar-benar tersiksa.
Air mata yang aku tahan
karena omongan Galih mengalir begitu saja, tanpa izin ku terlebih dahulu,
hatiku sakit, tapi aku mengerti semua yang Galih katakan tadi adalah benar. Ini
juga yang membuatku membenci diriku adalah betapa cepatnya hatiku merasa sedih
sepersekian detik, terlalu dalam orang yang katakan ku masuk begitu saja ke
dalam hatiku tanpa ku saring, terlalu cepat hati ini merasa tersinggung, marah
dan sedih. Ah! Benci.
“Yah, Nda, masa nangis sih” Galih mulai
merasa bersalah setelah berkata sepert itu.
“Kamu, gak ngerti sih Lih” jawab ku
terisak
“Terus kamu mau aku ngerti gimana? Kamu aja
kadang ceritanya gak bisa” Satu lagi kebencianku adalah aku tidak bisa
mengungkapkan kesedihan, yang seperti apa kekesalan, yang seperti apa aku rasa
terhadap lawan bicaraku, karena di pikiranku aku merasa jikapun aku bercerita
mereka nantinya akan meremehkan ceritaku, kembali lagi, mereka gak akan
mengerti. Kalian anggap aku gila? Iya. Memang. Aku sepertinya sudah gila. Tapi
bagaimanapu aku tetap harus hidup dan inilah kepribadianku “yang gila”.
“Yaudah lupain aja” jawabku sambil mengambil
tissue untuk mengelap air mataku
“Nda, kamu gamau ke psikolog aja?” tanya Galih
dengan hati-hati.
Psikolog, ini lagi. Tempat
yang sudah sering aku kunjungi ketika usia ku bahkan masih belia. Ketika ibu
dan ayah bertengkar aku melihat dengan mata telanjangku sendiri, sejak itu aku
terdiam, ibu dan ayah mengantarkanku ke psikolog takut-takut aku bermasalah
dengan psikologku setelah melihat mereka bertengkar, dan benar saja, ketika
dokter menyuruhku menggambarkan sesuatu aku menggambarkan kucing serta anjing
yang sedang bertengkar. Aku tak ingat tapi itu yang ibu bilang kepadaku.
Selanjutnya setelah aku SD aku di bully habis-habisan dengan teman
sebayaku kejadiannya aku masih ingat, dan awal mula dari situlah kepribadianku
berubah dan dibawa lagi untuk ke Psikolog, selanjutnya SMP tak lekang dari bullyan
aku mendapatkannya lagi dan kali ini lebih parah, disaksikan satu sekolah, dan
aneh nya aku masih bisa bersekolah di sekolah itu, sampai akhir tahun, ya
apalagi karena ibuku yang menguatkan ku berkata “jangan lari dari masalah, kamu
pasti bisa melewatinya” ya, aku bisa, tapi hatiku sebenarnya tidak, dan
kepribadianku berganti seiring masa sekolahku habis. Psikolog sudah menjadi
makananku dari dulu aku tak tahu apakah aku ini memang keterbelakangan atau
bagaimana sih? Kenapa? Kenapa harus psikolog? Kenapa tidak orang tuaku saja
yang mencoba memahami ku? Rasa tidak adil itu pun datang, pasalnya aku sedikit
malu menceritakan semua yang ku lalui kepada orang yang sama sekali aku tak
kenal. Ha..
“Kamu emang ada kenalan psikolog Lih?”
tanyaku
“Ada, kamu mau? Kalau mau aku bookingin, tenang
aja masalah uang kamu gak usah khawatir, biar aku yang bayarin buat sesi
pertamanya”
“Yaudah boleh deh aku mau” jawab aku masa bodoh,
ya mungkin siapa tau bisa saja membantuku, aku juga gak tau.
Hari yang Galih janjikan
untuk bertemu Psikolog pun datang , Galih memilih hari Sabtu karena pasien di hari
Sabtu lumayan sedikit jadi aku dan Galih pun datang pada hari Sabtu.
Ruangan putih nan bersih ini ku masuki untuk
menjadi sesi pertamaku dengan psikolog yang nantinya pasti akan menanyaiku
dengan berbagai macam pertanyaan, sudah akan ku duga. Pintu dibuka dan masuk
lah wanita separuh baya, kira-kira beumur 30 tahun, mengenakan rok coklat
sebetis, kemeja coklat ke abu-abuan serta rambut yang dikunci seperti kuda pipinya
tirus namun senyumnya terpampang lebar.
“Halo, Nanda ya?”
tanyanya sambil menjulurkan tangan
“Iya”
“Saya Riska, saya teman
baiknya ibu Galih kamu temannya?”
“Iya dok”
“Waduh gak usah panggil
dok, panggil aja ibu”
“Hehehe ibu” jawabku kaku
“Baiklah kenapa kamu
datang Nanda? Kata Galih kamu perlu bantuan ibu, tapi dia maunya kamu yang
cerita”
“Galih bilang gitu bu?”
“Iya, jadi disini saya
gak akan nanya-nanya, saya cukup mendengarkan kamu”
Aneh, baru kali ini aku menemui psikolog yang
hanya mendengarkan
“Tapi aku kurang nyaman
bu dengan masalahku”
“Baiklah kalau begitu,
adakah yang membuat kamu cemas?”
Ada, apakah aku ini gila atau psikopat
“Bu, apa yang ibu lihat pertama melihat saya?”
“Ibu, melihat mata yang
sayu, hati yang mungkin retak, dan pikiran yang tidak menentu”
Amblas hatiku, air mata jatuh begitu saja,
bagaimana ibu Riska bisa mengetahuinya
“Nanda.. ingin bercerita
kah?” jawabnya perlahan sambil duduk disebelahku memegang tanganku halus
“Bu, saya ingin
beristirahat panjang, saya lelah, saya lelah dengan diri saya sendiri”
“Nanda lelah dengan diri
Nanda yang tak menentu? Yang memiliki banyak kepribadian sehingga Nanda bingung
harus memilih kepribadian apa yang harus Nanda pegang?”
“Bagaimana ibu bisa
tau?” jawabku terisak
“Masalah utama manusia
di dunia ini hanya dua, kepribadiannya dan pola pikirnya. dan aku rasa
kepribadianmulah yang menghambat dirimu Nanda”
“Aku merasa orang-orang
jahat kepadaku bu, mereka tidak ada saat aku membutuhkan mereka, mereka dengan
seenaknya merasa karena aku baik dengan gampangnya mereka menjahatiku, dan
terlebih ketika mereka meninggalkan ku begitu saja knowing that I will be
fine when really I’m not fine at all”
“Nda, you really
depending on people, kamu sangat perasa kamu berharap orang memberimu
seperti kamu memberikan sesuatu kepada mereka, ibu rasa itu lumrah, manusia
mana yang tidak ingin diperlakukan sama seperti mereka memperlakukan orang
lain, tapi hukum itu tak berlaku disini, hukum itu hanya sebatas angan-angan,
nyatanya manusia adalah ego yang paling tinggi dibandingakn dengan binatang.
Nda, ibu rasa kamu tau mana yang baik dan mana yang tidak. Dan ibu rasa kamu
sudah tau jawaban dari semua permasalahan ini, kamu adalah kamu, tunjukkan
sifat asli dirimu.”
“tapi ketika aku
menunjukkan sifat asliku orang lain malah tidak menyukainnya bu”
“apakah Galih tak
menyukai sifat aslimu?”
“kadang”
“tapi apakah ia datang
lagi kepadamu?”
“ya”
“Nda, kita memang tidak
boleh berharap lebih kepada apapun. Jika memang kamu mau keluar dari lingkaran
cekikan ini, jangan berharap kepada siapapun jadi dirimu sendiri dan orang
dengan sendirinya memberikan pandangan berbeda terhadap dirimu”
“Nda takut”
“Banyak orang berkata
buat apa takut, toh dia juga manusia. Tapi mereka tidak tahu bahwasanya orang
memiliki ketakutan yang berbeda-beda tidak boleh disamakan ataupun
dibandingkan, jika Nda takut, tarik nafas, yakin Tuhan akan membantu dan let it
flow. Ibu yakin Nda bisa”
“Bu, manusia kejam,
apakah Nda gila? sakit jiwa?”
“Nda, hanya perlu
mengontrol hati Nda, semakin lama kamu mempertahankan sifat yang dulu ibu minta
maaf kamu bisa menjadi gila tapi ibu yakin Nda masih ada akal sehatnya,
sehingga kamu bisa berfikir dengan jernih”
Sesi pertamaku selesai,
dan ibu berharap aku tak akan mengujungi kliniknya lagi. Hati ini sedikit lega,
kertas yang remuk perlahan terbuka dan ku rapihkan sedemikian rupa. Keluar dari
ruangan aku melihat Galih, ia begitu kaget ketika wajahku sembab tak
berupa,layaknya bapao. Ia tak bicara banyak selain mengelus rambutku, dan kami
keluar dari Klinik tersebut, disepanjang jalan aku terdiam Galih tak banyak
bicara, ia menyetel lagu-lagu pop kesukaanku tanpa bernyanyi, jalanan yang
lumayan sepi membuatku menutup mata, dan tertidur.
Tak beberapa lama aku membuka mata, aku begitu
kaget ketika depanku adalah lautan, aku menengok kursi pengemudi Galih sudah
tak ada, aku pun melangkahkan kakiku keluar dari mobil dan mencari Galih, namun
aku menatap ombak pantai yang indah sehingga mencari Galih menjadi
terlupakan.
“Bagaimana indah gak
Nda?” jawab Galih dari belakangku
“Kok kesini? Kenapa gak
pulang aja?” jawabku bertanya
“ya, refreshing dong
Nda, daripada di rumah aja nanti kamu sedih-sedih lagi”
“Galih, makasih ya”
jawabku memandang matanya
“untuk sekarang jangan berterimakasih dulu, sebelum kamu baik, aku
gak akan menerima makasih kamu. Aku berharap kamu cepat pulih Nda, orang
mungkin kira itu hanya hal yang sepele tapi bagi aku gak, apalagi kamu
sahabatku, aku gak ingin kamu perfikiran yang aneh-aneh, aku harap kamu cepat
pulih dengan semua yang membuat hidupmu kurang berarti karena sejujurnya Nda,
kamu sangat berarti, ya orang-orang gengsi dong kalau bilang tiap hari ya kan,
tapi aku ingin kamu tau untuk aku kamu berarti setidaknya buat aku, karena
kalau kamu gak seperti ini aku gak tahu bahwa orang yang tersiksa seperti kamu
butuh dorongan aku dan aku merasa sangat membantu orang dan merasa aku berarti
hidup di dunia ini Nda, so it supposed to be me who be thankful’
Tanpa berfikir panjang aku memeluk sahabatku
Galih, tak terbayangkan jadinya kalau Galih gak disini bersamaku detik ini. Aku
memang beruntung.
“Ayo Nda turun, kita
nikmati karya Tuhan lalu balik ke relialita bareng-bareng yah!”
Dan, kami pun turun
bersama bermain ombak layak anak kecil, bercanda, menikamti ciptaan Tuhan yang
indah dan yang terpenting, ditemani dengan satu orang yang mengerti ku tanpa
aku minta banyak. Sebenarnya bukan kemananya namun dengan siapanya, tidak perlu
semua orang memahami mu tapi setidaknya ada satu orang yang memahami mu tanpa
kamu berkata banyak. Ia akan hadir tanpa harus diminta dan nyatanya berharap
kepada manusia adalah salah, jangan lupakan yang diatas karena tanpanya kamu
akan hilang kendali, tak apa sedih tapi jadikan sedihmu pelajaran, jadikan
hidupmu yang kurang berwarna menjadi berwarna, mintalah bantuan tanpa merasa
takut, karena bantuan akan membantumu tumbuh, jangan merasa hidupmu tak berguna
karena setidaknya satu dari seribu banyak orang merasa kehadiranmu berarti bagi
mereka.
Comments
Post a Comment