Bunga Jatuh


Malam itu udara dingin, selimut tebal tak dapat menghangatkan tubuh mungil itu. Bulan yang menderang terang membuat malam hari itu terkesan sayu, dan bintang yang cahayanya kecil bertebaran di sekelilinya. Pesan masuk dari handphonenya yang ia taruh di atas meja
“Hari ini malam dingin, maaf aku belum bisa menemanimu, tutup jendela dan tidurlah”
Inga yang melihat itu hanya tersenyum kecil, seperti biasanya, Noel tidak bisa menemani malam dinginnya hari ini. Baginya itu tidak apa-apa tapi rasanya semakin hari ia semakin bosan dengan hubungan ini, yang hanya berkabar dimana, dengan siapa, atau sedang apa. Noel dan Inga adalah sepasang kekasih, Noel yang kini bekerja di perusahaan ternama memiliki kepadatan kerja yang cukup banyak, sedangkan Inga seorang pelajar dengan jurusan arsitektur yang sebentar lagi akan lulus. Inga dan Noel telah menjalin hubungan kurang lebih 5 tahun, dari awalnya bertemu sebagai senior dan junior asmara tumbuh diantara mereka. 5 tahun mereka jalani dengan berbagai macam cerita, namun baru kali ini hubungan mereka berada di ambang batas, rasa bosan melanda tak ada habisnya dan rasa sepi itu hadir di tengah-tengah mereka.
“Inga, kamu mau aku bantu menyelesaikan tugas ini?” tanya Matt teman baik Inga di kelas arsitektur
“Oh, tidak usah Matt aku bisa menyelesaikan ini” ujar Inga sambil menghapus beberapa bagian gambar yang ia kerjakan
“Baiklah kalau begitu bagaimana kalau setelah ini kita makan?” usul Matt yang duduk di sebelah Inga sambil membereskan sisa-sia kerjaannya
“Great idea, kamu yang pilih deh tempatnya dimana”
“Kita makan pasta di Pasto Restaurant bagaimana?”
“Okay”
Setelah pekerjaan Inga selesai mereka berjalan keluar kampus dan mengambil bus untuk pergi ke Pasto Restauran yang menyajikan pasta terenak dengan budget mahasiswa, ya bisa dikatakan makanan Italia agak sedikit mahal dengan makanan yang ada di Indonesia. Mereka memilih tempat duduk di dekat jendela sehingga view yang di dapat adalah jembatan penyebrangan yang dibawahnya terdapat sungai. Setelah memesan makanan mereka berbincang dengan santai, wine yang mereka order hampir setengah habis, steak serta pasta yang mereka order telah ludes habis dimakan, pukul menunjukan 3 sore dini hari setelah membayar makanan mereka keluar dari restaurant tersebut dan berjalan menuju dorm kampus. Cuaca paris saat itu sedang dingin-dinginnya, orang-orang mengenakan pakain musim dingin setebal mungkin yang mereka bisa. Di tengah perjalanan mereka terdapat flower shop yang pemiliknya mengajak pejalan kaki yang melewati flower shop mereka berkunjung ke sebentar untuk melihat bunga-bunga yang harumnya seberbak, bahkan dari kejauhan wangi buah dari flower shop tersebut sudah tercium.
“Ayo silahkan masuk terlebih dahulu, kita sedang mengadakan sale untuk pembelian Bunga mawar yang harumnya bisa tahan sampai 3 hari” ujar pemilik flower shop tersebut
“Ayo kita masuk Inga” ajak Matt yang tanpa persetujuan Inga menarik tangannya masuk
Inga terkesima dengan flower shop tersebut, pasalnya bukan hanya baunya yang semerbak namun berbagai macam bunga terpampang dan terjual di flower shop itu.
“Nona terlihat cantik sekali bagaimana dengan bunga mawar berwarna biru ini, akan terlihat pas untuk anda” ujar pemilik toko itu sambil mengambil setangkai bunga mawar berwarna biru muda yang terlihat fresh dan segar aromanya pun tak kalah menggoda
“Ah, tidak terimakasih saya hanya akan melihatnya tidak membelinya” tutur Inga sopan ketika pemilik tersebut akan memberikan bunga tersebut
“Kenapa? bunga ini akan memberikan ketenangan dari warnanya dan aku kasih tau sedikit rahasia, bunga ini akan mengugurkan daun nya jika sang pemilik memiliki hari yang buruk namun akan mekar kembali ketika ia bersenang hati” jawab pemilik tersebut
“Ti..” sebelum Inga menyelesaikan kata-katanya Matt terlebih dahuluu menyela
“Kami akan membelinya”
“Matt! Tidak usah, aku tidak membutuhkannya”
Well now you need it because I bought it for you” jawab Matt tersenyum
Inga merasa kurang pantas menerimanya dari sahabatnya Matt ya walau bukan pertanda apa-apa namun hati Inga sedikit menganjal, cepat-cepat ia singkirkan perasaan itu sebelum fikiran negatifnya menyerang dirinya.
“Matt, thankyou for the flower”
“Wanita sepertimu berhak mendapatkan bunga, aku tau hubunganmu dengan Noel sedang berada titik yang jenuh tapi aku yakin bunga biru ini akan mengembalikan ceriamu, so, no more sad Inga alright?”
Inga hanya tersenyum dan mengangguk dan mereka pun menlanjutkan perjalanan mereka di bawah cuaca Paris yang dingin.
Setelah menghabiskan waktu diluar, Inga memasuki dormnya dan melepaskan coat serta scarvenya yang melilit di bagimana leher. Tak lama handphone Inga bergetar dan tertulis di bagian depan handphonenya

“Call from Noel-“

Dengan sekali swipe hubungan telefon dengan Noelpun terhubung
“Halo” jawab Inga tersenyum”
“Hai, Inga, bagaimana hari ini?”
Good, tadi aku bersama Matt pergi ke restaurant pasta yang sebelumnya ku ceritakan, aku tak sabar ingin membawamu pergi kesana! Pasta disana enak sekali dan harganya pun sangat terjangkau kau pasti akan suka”
“Wow, aku tak sabar ingin pergi ke restaurant yang kau ceritakan itu” jawab Noel dari ujung sana
“Noel, apakah kita jadi bertemu di akhir pekan ini?” tanya Inga
Noel yang ditanya terdiam di ujung sana, dengan tarikan nafas ia berkata
“Aku minta maaf, sepertinya kita harus tunda dulu Inga, aku butuh waktu sendiri sudah beberapa hari ini aku begitu capek dengan rutinitasku”
“Kalau begitu kenapa tidak refreshing bersamaku saja, kita bisa ke Eiffel Tower kalau kau mau atau ke tempat yang agak hangat jika Eiffel Tower terlalu dingin” jawab Inga tidak ingin akhir pekannya diisi dengan tidur dan berbaring dengan laptop atau menonton
“Inga, aku rasa tidak bisa”
…….
“Inga? Halo?” ujar Noel karena Inga yang diujung sana hanya terdiam
“Lalu kapan kita bisa bertemu? Akhir-akhir ini aku dilanda bosan dengan hubungan kita yang monoton saja Noel. Aku tak bermaksud untuk memaksamu untuk memperhatikanku tapi rasanya.. ntahlah aku bosan”
“Lalu apa yang bisa aku perbuat? Bukan salahku kalau memang aku tak bisa mengkontrol pekerjaanku”
“Setidaknya luangkan waktu untukku, malam hari kau bisa menelfonku”
“Inga, aku sudah capek dengan pekerjaan bagaimana aku bisa menelfonmu di malam hari?”
“Ntahlah Noel, aku rasa kehadiranmu kini tergantikan dengan sahabatku Matt”
“Inga, aku tak bisa memaksamu, jika memang Matt adalah seseorang yang bisa menghiburmu aku rela”
“Maksudmu kau ingin menyerah begitu saja?” nada tinggi Inga keluarkan begitu ia mendengar respon Noel
“Bukan begitu, aku merasa gagal juga, terlebih tak bisa menemanimu dikala kau memang membutuhkan ku”
“Jadi begitu saja? Sejujurnya bukan itu yang aku inginkan, tapi aku menginginkan usahamu sedikit saja untuk setidaknya hadir dikala memang aku membutuhkan, menanyakan kabarku setiap malam, atau setidaknya mengatakan betapa kau merindukanku akhir-akhir dikala kesibukanmu. Jujur aku merasa seperti hanya aku yang merindukanmu, dan aku sudah merasa muak dengan rindu itu”
“Inga, aku memang sangat merindukanmu”
“Lalu apa yang kau lakukan?! Nothing Noel nothing! Bahkan ketika aku menghubungimu duluan kau bilang aku menganggunmu, aku lelah Noel aku bosan dengan hubungan ini”
“Inga aku mencintaimu” jawab Noel lirih
“Aku memikirkan hal yang lucu, tadi Matt membelikanku bunga mawar biru dan ia berkata bahwa aku berhak mendapatkan nya, sedangkan bunga ini kini telah layu akibat hatiku yang sedih dan luntur akibatmu Noel”
“Inga, please stay, aku akan mendatangimu akhir pekan”
“Kau tau Noel, jangan. Sebaiknya kita tidak usah bertemu, aku harap kau mendapat pelajaran selama 5 tahun kita bersama, bahwa yang aku butuhkan hanya kehadiranmu sesaat buat ku. Ntah kau fikir aku terlalu egois atau bagaimana tapi kehadiran itu lah yang menurutku sangat penting, setidaknya untuk ku, karena siapa tau seseorang bisa saja hatinya berubah dan merasa bahwa orang lain dapat mengantikannya dengan lebih baik lagi. Goodbye Noel”
Hubungan telefon itu berakhir, Inga menagis sejadi-jadinya di kasur, ia merasa sesak dan hancur. Ia kira hubungannya dengan Noel akan berakhir indah, ternyata perkiraannya salah bahkan pemicu kecil seperti ketidakhadiran dapat membuat seseorang pergi dari kehidupannya. Ia memang marah, namun kecewalah yang lebih mendominasi hatinya. Kesibukan memang selamanya akan terjadi, namun jika seseorang telah menjadi prioritas hal itu tak lagi penting, bahkan dengan kesibukan itulah seharusnya ia dapat memberikan sesuatu lebih karena waktu nya yang sempit. Lalu bunga mawar biru itu jatuh mongering seperti tangisa Inga ya mengering dalam tidurnya.

Comments

  1. Hai tulisan kamu di tisu itu jangan di simpan begitu saja ...karena kata kata itu penuh makna...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

tanda tanya

To The Whole New Beginning

dear tomorrow